Posted 3 weeks ago
Review Tonight

"Hujan ya, Yud?" tanyaku pada Yuyud yang menemaniku ke Alfamid* malam ini. “Iya, Kak,” jawab Yuyud setelah mendongakkan kepalanya, melihat keluar dari pintu Alfamid*. Alamat lama nih menunggu hujan reda. Tak satu pun dari kami yang membawa payung. Aku dan Yuyud yang berencana membeli pecel lele setelah keluar dari Alfamid* pun memutuskan untuk makan pecel lele di tempat jualannya saja. Tak dibungkus untuk dimakan di kosan. Kami pun makan pecel lele yang tak jauh dari Alfamid* sambil menunggu hujan reda.

Alih-alih reda, hujannya malah tambah menggila. Bahkan sampai kami selesai makan, tak ada tanda-tanda akan segera teduh.

"Kakak gak takut basah, tapi kakak takut kedinginan," kataku pada Yuyud yang kemudian menimpali, "Berarti sama aja Kakak takut sama hujan , dong!"

"Bukanlah… Kalau hujan kan cuma hujan air. Sama aja kayak pas lagi nyuci baju, kita basah juga kan, tapi gak kedinginan," aku membalas dengan analogi yang ngasal. Aku sendiri tak tahu bagaimana kehujanan tanpa kedinginan, apalagi kalau sampai basah kuyub. Dari dulu sampai sekarang, menggigil kedinginan selalu membuatku menderita. Mungkin karena aku takut setelah kehujanan malam ini aku malah jatuh sakit, mengingat tadi di kantor aku sempat lemes dan kepala nyut-nyutan hebat karena akumulasi capek jiwa raga dari kemarin. Ditambah lagi tamu bulanan sedang menghampiriku. Lengkap sudah hal yang berhasil membuatku tumbang siang tadi.

"Tunggu aja hujannya reda dulu, baru pulang," kata si Bebeib di WhatsApp. Yuyud masih mengoceh seperti biasanya. Hujan kemudian berubah dari deras menjadi agak deras. Kami memutuskan pulang saja karena sudah lama menunggu. "Pake kantong kresek aja, Yud di kepala," kataku. Yuyud kemudian meminta dua helai kresek kepada mas pecel lele. Setelah membayar pecel lele, kami pun setengah berlari dengan kantong kresek hitam di kepala. Kami lalu menertawai kegilaan kami, dua orang wanita yang berlari dengan kantong kresek di kepala, di tengah rinai hujan. Orang-orang yang tengah berteduh menatap kami dengan tatapan ‘Gila nih orang’, tapi aku merasa paling waras saat itu. Si Bebeib pasti mengkhawatirkan kalau-kalau aku sakit lagi, tapi malam ini aku merasa sehat sepenuhnya. Kapan terakhir kali aku tertawa sambil berlari di antara rinai hujan dengan waktu yang sekarang terasa begitu sempit…?

Sesampainya di jembatan penyebrangan… Hey look! Aku tak merasa kedinginan sama sekali! Karena tadi menempuh hujan sambil berlari. Hmm… Mungkin begitulah ‘hidup’. Kita hanya butuh sudut pandang dan cara yang berbeda untuk melakukan hal yang kita rasa sulit, menaklukan rasa takut yang bahkan belum tentu ada penyebabnya…

Pas lagi ngantuk, di kosan | 20.35 | Jumat, 28 Maret 2014

Posted 3 weeks ago

"Let’s begin," he said.

Mulai. Mulai untuk mengarungi bahtera kita. Dengan kamu, pengendali kemudinya. Dan aku di sisimu, sesekali memberi tahu kalau-kalau dari kejauhan ombak mulai menerjang. Biarpun terkadang oleng terbawa gelombang, aku akan tetap ada sebagai penyeimbang, dan kita akan tetap tegar. Kita pasti bisa, sayang, menaklukkan segala rintangan. Tetaplah tersenyum dibalik kemudimu. Sampai kapanpun… – View on Path.

"Let’s begin," he said.

Mulai. Mulai untuk mengarungi bahtera kita. Dengan kamu, pengendali kemudinya. Dan aku di sisimu, sesekali memberi tahu kalau-kalau dari kejauhan ombak mulai menerjang. Biarpun terkadang oleng terbawa gelombang, aku akan tetap ada sebagai penyeimbang, dan kita akan tetap tegar. Kita pasti bisa, sayang, menaklukkan segala rintangan. Tetaplah tersenyum dibalik kemudimu. Sampai kapanpun… – View on Path.

Posted 4 weeks ago
Today’s Review

Subuh-subuh pintu kamar di Parung diketuk, “Teteh, ayuk oyahyagaaa~”. Langsung kubuka pintu. Bener dugaanku. Si Oyip udah bangun aja… ^^
“Eh, Oyip… Udah bangun yaa. Sini cium Teteh dulu.”
“Mmmuuaahh… Teteh, oyahyagaa..”
“Iyah, tapi Teteh sholat dulu yaa..”
Usai subuhan langsung jogging sama Oyip. Alih-alih berolahraga, aku malah ngos-ngosan karena ngejar-ngejar si Oyip. Takut dia ketabrak mobil atau motor yang mulai berlalu-lalang.
Tak lama kemudian datang Aa-aa si Oyip, Aa Acep sama Aa Kosi. Semua masih bocah-bocah. Dan emak-emak sekitaran rumah memandangku dengan tatapan, “Ini orang pasti ketuanya bocah-bocah.” Hahaha… *abaikanaja*
Abis jogging, kami.pun ke rumah Ipeh. Ternyata si Ipeh udah bangun juga. Oyip pun dengan semangatnya bilang ke Ipeh yang masih berumur 5 bulan, “Ipeh ayuk oyahyagaaa.” ^^;
Aku pun menggendong si Ipeh, membawanya keluar berkumpul ke belakang rumah bersama keluarga lainnya. Capek menggendong, aku pun memangku si Ipeh. Bener-bener anteng banget dia. Gemeeees deh. Kata mamah, Ipeh kayak kak Darma waktu baby, putih dan gemuk menggemaskan. Hihi.. Tak lama kemudian………. Ipeh pipisin aku. Well, Ipeh, Teteh tau kok kalo teteh belum mandi. v,v Gegara dipipisin si ipeh, aku pun mandi dilanjutkan dengan mencuci pakaian. Abis itu kayak biasa sarapan sama mamah dan papa. Selalu over kekenyangan kalau udah balapan makan sama papa. Jadinya ngantuk… Tapi kata mamah, Nis lg bikin prakarya dari sedotan. Aku pun membantunya bersama bibi-bibi. (Wait, dari tadi orangnya banyak banget yak?? Ini emang keluarga besar, keluarga baruku. :-> ) Kata Nis, sedotan yang dibuat jadi bunga ini untuk ujian akhirnya di SMP. Aku suka prakarya! :D Langsung saja bikinin salah satu prakarya sedotan yang masih kuingat, bikin jagung. Abis bikin-bikin prakarya, kita semua dibikinin rujak sama mamanya Nis. Enaaaaak… Abis itu aku tidur. Hoho… Ngantuk…
Bangun-bangun udah jam 1. Diajak makan siang. Makan bareng mamah papa lagi. Kenyeeeeng lagi… Abis itu beres-beres buat balik ke Jakarta. Biar cuma bisa menyempatkan waktu sehari saja, selalu excited kalo udah liburan di Parung. Dan keluarga besar ini… Selalu membuatku berarti.

Posted 4 weeks ago
Hanya Tangis

Setengah berlari ku turuni anak tangga shelter Perumnas Klender, sebelum Trans Jakarta yang akan kutumpangi berlalu. Hufh… Akhirnya masuk juga ke dalam bus. Seperti biasa, bus TJ Kp. Melayu-Walikota sepi. Ku pilih bangku di bagian paling depan karena lampu di atasnya lebih terang. Biar bisa melanjutkan baca novel, pikirku.

Selembar dua lembar ku baca, ku kira aku akan bisa melupakan kejadian barusan. Nyatanya tidak.

Bus TJ melaju di jalurnya. Seperti biasa jalanan mulai lengang jam-jam segini. Seperti biasa, rasanya AC bus sangat dingin di malam hari. Ya, seperti biasa. Tapi ada yang kini tak biasa…

Tak ada senyum ramah. Tak ada canda tawa. Tak ada obrolan. Tak ada makan bersama. Dan tak ada ibu…

Aku kembali terisak. Novel masih ku genggam dalam keadaan terbuka. Petugas pintu TJ atau beberapa penumpang di dekatku pasti mengira aku terlalu melankolis sampai-sampai membaca novel pun aku menangis. Ku tahan sebisa mungkin. Tapi yang terbayang hanya kenangan saat semua berkumpul bersama ibu.

Ibu, andai ibu masih ada tentu semua ini gak akan pernah terjadi… Ibu, aku benar-benar gak tahu harus bagaimana. Semua ini terasa begitu menyakitkan, Bu…


19.50 | 27-03-2014 | @TJ Walikota-Kp. Melayu


Ask | Archive | Shuffle | RSS

ABOUT

dedoubleyouI'm ★Dhani Nasution★, 22 Years Old, a Boru Panggoaran from MANDAILING Ethnic, Indonesia.
dedoubleyou.wordpress.com

Following